Wartakontras.com, Pekanbaru– Suara kekecewaan bergema keras di halaman Universitas Lancang Kuning (Unilak). Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aliansi Mahasiswa Pecinta Unilak (GAMPU) kembali turun ke jalan pada Rabu, 6 Mei 2026, dalam demonstrasi jilid II. Aksi ini bukan sekadar protes biasa, melainkan teguran keras atas dugaan kelalaian, ketidaktransparanan, dan indikasi Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) yang mengakar kuat di tubuh manajemen kampus.
Puncak kemarahan mahasiswa tertuju pada nasib Proyek Turap dan Pagar Kampus. Dana ratusan juta rupiah telah digelontorkan, namun hasilnya? Bangunan roboh berulang kali bahkan sebelum sempat dimanfaatkan. Sebuah bukti nyata kegagalan pengelolaan proyek yang memalukan.
Ironisnya, fakta yang jauh lebih mencengangkan terungkap: kontraktor yang bertanggung jawab atas proyek gagal tersebut kembali diberi kepercayaan besar. Kali ini senilai Rp 10 Miliar untuk pembangunan Gedung Pembelajaran Serbaguna!
Keputusan ini dinilai sangat janggal dan mencurigakan. Tidak ada evaluasi terbuka, tidak ada pertanggungjawaban kegagalan sebelumnya, namun aliran dana besar tetap bergulir.
“Bagaimana logikanya? Proyek rusak, tapi kontraktornya makin kaya? Di mana akuntabilitasnya? Ini bukan lagi soal pembangunan, ini sudah indikasi permainan anggaran,” tegas Munawar Harahap, Jenderal Lapangan GAMPU.
Bukan hanya soal pembangunan, beban juga dipindahkan ke pundak mahasiswa. Di saat fasilitas tidak membaik, kampus justru menaikkan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dan biaya wisuda. Mahasiswa menilai kenaikan ini sangat memberatkan dan tidak sebanding dengan kualitas layanan yang diterima.
Berikut 3 Tuntutan tegas yang disampaikan:
1. ✅ Tindak Tegas Dugaan Penyimpangan: Selesaikan kasus proyek bermasalah, temukan oknum yang terlibat, dan bawa ke ranah hukum.
2. ✅ Transparansi Mutlak: Buka seluruh data anggaran kampus. Mahasiswa berhak tahu ke mana uang pendidikan mereka mengalir.
3. ✅ Klarifikasi Resmi: Berikan penjelasan terbuka kepada publik agar nama baik Unilak tidak terus tercoreng.
Situasi memanas saat perwakilan kampus yang hadir hanyalah Wakil Rektor III, Dr. Hardi. Penjelasan yang disampaikan dinilai mahasiswa hanya berisi pembelaan diri, tanpa solusi nyata atas masalah yang ada.
Sebagai ultimatum, GAMPU berkomitmen: “Jika tidak ada tanggapan dan penyelesaian nyata, kami akan kembali dengan kekuatan massa yang jauh lebih besar!”
Kini mata publik tertuju pada rektorat Unilak. Apakah institusi ini akan berani bersih-bersih, atau membiarkan kepercayaan masyarakat runtuh bersama proyek-proyeknya?. ***(Tim).





